Paguyuban Sunmor UGM Utamakan Dialog Dalam Polemik Lokasi Berdagang

 


Sleman (newsflash-ri)____Perkembangan perekonomian suatu daerah tidak terlepas dari aktivitas perekonomian masyarakat. Suatu daerah dikatakan makmur apabila  masyarakatnya dapat hidup sejahtera dan kebutuhannya tercukupi. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita selalu dihadapkan dengan persoalan persoalan yang berkaitan dengan ekonomi, sehingga masyarakat dituntut untuk membuat keputusan yang tepat dalam melakukan kegiatan ekonomi untuk mengatasinya. Demi mencapai kebutuhannya, masyarakat bekerja dalam sektor formal mupun informal sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang masing-masing mereka miliki. 


Sempitnya lapangan pekerjaan membuat masyarakat lebih memilih  bergerak dalam sektor informal. Hal ini ditandai dengan maraknya  masyarakat yang memulai membuka usaha baik dalam bidang barang  maupun jasa. Sektor usaha mikro dan kecil sebenarnya berperan sangat penting dalam hal menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Mereka yang memulai membuka usaha memerlukan karyawan. Artinya dalam hal ini usaha mikro, kecil, dan menengah atau yang sering disebut “UMKM”  berpotensi sebagai pembuka lapangan pekerjaan terbanyak sehingga  permasalahan pengangguran dapat teratasi.


Contohnya di Yogyakarta, Ketua Komunitas UMKM DIY Prasetyo  Atmosutidjo menyatakan, Minggu (18/4/2021), total UMKM di Yogyakarta ada sekitar 600 ribu  pada tahun 2016. Dengan begitu, jenis usaha ini mampu menyerap tenaga kerja hingga 90 % lebih. Namun, dalam penilaiannya pemerintah belum banyak berkontribusi dalam pengembangan UMKM.  


Di Yogyakarta daerah sekitar kampus Universitas Gajah Mada (UGM),   terdapat pasar yang sudah berdiri selama dua puluh tahun dan menjadi  media untuk memasarkan UMKM masyarakat sekitar. Pasar tersebut  diberi nama “Sunday Morning” atau masyarakat biasanya menyebutnya  “SUNMOR”. Seperti namanya bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia adalah minggu pagi. Pasar ini hanya beroperasi pada hari Minggu pagi di kawasan kampus UGM.


Sunmor menjadi icon wisata kota Jogja berbentuk pasar tradisional karena ciri khas tawar menawar masih menjadi budaya di pasar ini. Setiap minggunya Sunmor dipenuhi ratusan pelapak dan ribuan pengunjung yang datang. Dengan banyaknya pelapak dari segala jenis produk kuliner, fashion, peralatan rumah tangga, dan lain-lain dijual, sunmor hadir sebagai media bagi para pelaku UMKM yang ingin memperkenalkan lapak mereka dengan biaya sewa yang murah sehingga masyarakat dapat mengenalnya. 


Sebelumnya terdapak empat paguyuban yang mengelola Pasar Sunmor UGM yaitu Paguyuban Sinar Pagi, Notonegoro, Fajar Wiradigama, dan Paguyuban Pedagang Taman Kupu-Kupu. Semua paguyuban akhirnya bersatu menjadi sebuah paguyuban yang diberi nama “PPSM” atau Perkumpulan Pedagang Sunday Morning. Anggota-anggota yang tergabung dalam PPSM sendiri adalah dari pedangang pasar dan aktivis yang memiliki kepedulian terhadap Pasar Sunday Morning. 


Bahwa Paguyuban Perkumpulan Pedagang Sunday Morning (PPSM) UGM saat ini diketuai oleh Ponimin dengan jumlah pedagang yang telah tergabung dan terdaftar aktif sebagai anggota dalam Paguyuban PPSM ini sebanyak 820 pedagang serta saat ini telah terbentuk sebanyak 30 orang pedagang sebagai pengurus inti. Paguyuban Perkumpulan Pedagang Sunday Morning (PPSM) siap bersinergi bersama Pemerintah Daerah, TNI, Polri dalam menjaga situasi kamtibmas yang kondusif di masa pandemi ini. (sbd)

0 Comments